Humaira (2)
Orang yang terlalu memikirkan akibat dari sesuatu keputusan atau tindakan,
sampai kapanpun dia tidak akan menjadi orang yang berani.
-Ali bin abi thalib-
Humaira hanya melambaikan tangan dari depan pintu kontrakannya, dia membiarkanku berdiri dipintu pagar, mematung seperti orang kebingungan disini. Sesaat lamanya kubiarkan diriku larut dalam ucapan-ucapannya tadi, aku tak pernah menyangka dia akan mengucapkan kata-kata dahsyat seperti tadi, seperti tak percaya dengan kejadian beberapa menit yang lalu itu. Seumur hidup baru pertama kalinya seorang wanita berbicara seperti itu padaku. Entahlah!
Aku berusaha tenang, lalu melambaikan tangan kepadanya untuk pamit, kembali ke taksi lalu pulang ke kost. Di sepanjang perjalanan, aku hanya diam. Lagunya "Jason Mraz - Lucky" mengalun indah dalam taksi menambah suasana galau yang tak seperti biasanya. Aku masih tak percaya, benar-benar tak percaya dan tak menyangka Humaira akan mengucapkan kata-kata itu! Ya, kata-kata yang diucapkan untuk seorang lelaki asing yang baru ditemuinya tiga kali. Dia bahkan belum mengenalku, belum tahu latar belakang hidupku, keluargaku, pergaulanku, atau ahklakku sebagai seorang lelaki muslim. Aku sebenarnya terlalu baru untuknya, benar-benar baru untuknya, seorang lelaki asing yang baru di temuinya di kereta api enam bulan lalu! Dan secepat itukah dia mengucapkan kata-kata tadi? Ah sudahlah, lupakan saja! Aku tak mau memikirkannya, biarlah waktu yang mejawabnya nanti. Dan seandainya Allah berkehendak menyatukan kami, maka jalan itu sudah pasti dimudahkanNya untuk kami lalui nanti.
***
Setiba dikost, aku mengabari Humaira. Menelepon dia sebentar untuk mengucapkan terima kasih karena sudah mau menemaniku menghadiri acara pernikahan tadi. Aku sengaja tak menanyakan peristiwa didepan pintu pagar kontrakannya tadi, selain takut menyingung perasaannya, aku juga berpikir ada waktu yang tepat untuk mendiskusikan dengannya nanti.
Setelah malam itu, kami bersahabat seperti biasanya, kami tetap saling mengabari lewat SMS, terkadang juga saling menelepon sekedar bercerita. Bagi aku, dia adalah sahabat dalam cinta dan ukhuwah, sahabat yang saling mengingatkan bila aku lalai terhadap kewajiban-kewajibanku sebagai mukmin.
***
Dan...
Empat belas hari setelah pertemuan terakhir kami malam itu, dia menelepon mengajakku bertemu lagi. Katanya, "ada sesuatu yang mau diberikannya kepadaku". Kami pun janjian untuk bertemu dan makan malam di sebuah restoran di sekitar Tugu Pancoran - besok selepas ba'da isya.
Besoknya....
Aku datang lebih awal ke restoran dan memesani meja buat kami, tak lama kemudian dia datang. Hmmm, Humaira benar-benar mempesona malam itu, dia mengenakan jalabiyah berwarna ungu dipadu rok hitam memanjang, benar-benar muslimah, ditambah lesung pipinya yang selalu merona kemerah-merahan. Aku seperti tersihir dengan keanggunan dia malam itu, indah benar mahkluk Tuhan yang satu ini.
Aku mempersilahkan dia duduk, lalu memesani makanan untuk kami berdua. Waktu kami memang tak banyak malam itu, ada urusan masing-masing yang harus kami selesaikan, jadi kami tak banyak bercerita, hanya sekedar melepas kangen setelah dua minggu tak bertemu (mungkin). Sambil menyantap makanan, kami lebih banyak diam, sibuk dengan makanan masing-masing. Entahlah, Humaira malam itu agak pendiam tak seperti biasanya, aku tak tahu apa yang sedang dipikirkannya. Dia sesekali hanya melemparkan senyum untukku, lalu kembali menyantap makanannya. Sungguh, mahkluk Tuhan satu ini benar-benar membuatku salah tingkah dihadapannya.
Makan malam kami jadinya seperti konser sunyi, seperti sebaris ombak yang sampai ke pesisir pantai dengan pelan tanpa memecah kumpulan pasir, lautanpun teduh dan sunyi. Lalu sang pemetik harpa memetik dawainya dengan penuh rahasia, menusuk jiwa kami berdua dalam pantomim yang resah. Ah, benar-benar malam yang sunyi. Hanya terdengar bunyi sendok yang beradu dengan piring dan bunyi minuman yang kami seruput.
Satu jam kami melakoni adegan pantomim "konser sunyi tanpa bicara". Entahlah, mungkin ada sesuatu yang ingin disampaikan humaira kepadaku tapi dia tak berani mengucapkannya, aku bisa merasakan seraut wajah cemas dibalik senyumannya untukku. Aku pun lebih memilih diam dan tak ingin banyak bertanya, biarlah rahasia diamnya humaira tenggelam bersama kesunyian yang tengah membekap kami berdua malam itu.
***
Sebelum berpisah dari makan malam yang aneh itu, dia memberikan aku satu bingkisan kecil tipis. Katanya, ini adalah sesuatu yang dia janjikan ditelepon kemarin. Dia sempat berpesan "bungkusan itu jangan di buka dulu sebelum tiba dikost". Dia lalu pamit, menumpangi taksi dan pulang ke kontrakannya. Aku lagi-lagi hanya mematung memandangi taksi yang ditumpanginya menghilang diantara kemacetan jakarta malam itu.
***
Kubuka bingkisan hadiah dari Humaira setiba dikost, ternyata dia menghadiahi aku sebuah "buku". Hmm, dia seperti tahu saja kesukaanku membaca buku, padahal sebelumnya aku belum sempat bercerita banyak tentang kesukaanku dan hobiku membaca. Senang sekali diriku dengan hadiah ini, selain karena hadiahnya adalah kejutan, buku ini sudah lama sekali ingin aku beli tapi tak pernah kesampaian. "Terima kasih Humaira".
Ada satu hal lagi selain bukunya yang membuat aku benar-benar tertegun dan sempat melongo malam itu, ternyata ada secarik kertas yang dia sisipkan di buku itu untukku, secarik kertas yang tertulis sebait kalimat "Untuk sahabatku dalam cinta, lelaki asing yang sudah membuatku merasa hidup kembali, terima kasih untuk kehadiranmu, terima kasih untuk semuanya, aku mencintaimu, see you next time". Lagi-lagi aku dibuat tak percaya dan bertanya-tanya apa maksud dari sebait kalimat Humaira ini.? Sebait kalimat yang dia tutup dengan "see you next time".
Ya Allah, siapa wanita ini?, begitu misteriusnya takdirMu, hingga aku tak sanggup mengurainya, Engkau hadirkan dia tanpa pernah ku minta dalam doa-doaku.
**
Besoknya, setelah pertemuan kami malam itu. Humaira mengirim satu SMS kepadaku, dia mau pamit untuk pergi ke Bali, ada sedikit urusan disana yang berhubungan dengan tesisnya. Ku balas SMS itu dengan menyuruhnya hati-hati di perjalanan dan segera kembali bila urusannya sudah selesai.
Dan, entah kenapa hari ini aku cemas sekali.....!!!
Sudah 3 minggu aku kehilangan kabarnya, Sudah 3 minggu juga dia berada di Bali. Teleponnya sampai saat ini tak bisa dihubungi dan SMS-SMS ku pending semua. Ya Allah, Semoga Humaira baik2 saja disana, dan kembali ke jakarta dengan selamat. Aku Berdoa untuknya dari sini.!
[Bersambung..................]


